– Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa perkembangan pesat tokenisasi aset finansial tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga akibat serius bagi stabilitas pasar global.
Dalam catatan nan dirilis awal April, penasihat finansial IMF Tobias Adrian menyoroti bahwa teknologi ini berpotensi mengubah struktur sistem finansial secara mendasar, bukan sekadar meningkatkan efisiensi.

Saat ini, sektor tokenisasi aset bumi nyata alias real-world assets (RWA) telah berkembang pesat, dengan nilai mencapai sekitar US$ 27,5 miliar.
Tokenisasi memungkinkan transaksi aset seperti uang, saham dan obligasi dilakukan nyaris secara instan melalui smart contract di blockchain.
Di satu sisi, perihal ini mengurangi biaya dan mempercepat proses. Namun di sisi lain, IMF memandang ada sesuatu nan hilang, ialah ‘buffer waktu’ dalam sistem finansial tradisional.
Dalam sistem lama, jarak waktu penyelesaian transaksi memberi ruang bagi bank untuk mengelola likuiditas, melakukan netting dan bagi regulator untuk melakukan intervensi jika diperlukan.
Dengan adanya tokenisasi, buffer ini nyaris lenyap sepenuhnya.
“Justru jarak inilah nan selama ini berfaedah sebagai peredam guncangan dalam sistem finansial global,” ungkap Adrian.
Baca Juga: Kamboja Perangi Scam Kripto dengan UU Baru
Risiko Likuiditas dan Otomatisasi
Tanpa buffer tersebut, Adrian menilai tekanan likuiditas bisa meningkat.
Institusi finansial kudu selalu siap menyediakan biaya secara real-time untuk memenuhi penyelesaian transaksi instan. Dalam kondisi stres pasar, ini bisa mempercepat krisis likuiditas.
Selain itu, ketergantungan pada smart contract juga membawa akibat baru.
Jika terjadi bug alias kesalahan sistem, eksekusi otomatis bisa memperparah situasi, misalnya memicu likuidasi massal tanpa intervensi manusia.
Masalah lain muncul dari sifat lintas pemisah tokenisasi. Aset digital dapat dengan mudah beranjak antar negara, sementara regulator tetap terikat pada yuridiksi masing-masing. Hal ini membikin penanganan krisis menjadi jauh lebih kompleks.
Dalam skenario ekstrem, koordinasi antarnegara bisa menjadi lambat, sementara sistem berbasis blockchain terus melangkah secara otomatis.
Kendati demikian, IMF tetap mengakui faedah besar tokenisasi, terutama dari sisi efisiensi, transparansi dan biaya.
Namun, agar sistem ini tetap stabil, IMF menekan pentingnya fondasi kepercayaan publik. Salah satu solusi nan diusulkan adalah penggunaan aset penyelesaian nan aman, seperti central bank digital currencies (CBDC) untuk institusi.
Tanpa sistem semacam itu, tokenisasi berisiko memperbesar ketidakstabilan akibat kombinasi kecepatan tinggi, konsentrasi likuiditas, dan fragmentasi sistem.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·