Serangkaian Agenda Global Pekan Ini Berpotensi Guncang Bitcoin

Sedang Trending 17 jam yang lalu

– Pasar mata uang digital memasuki pekan baru dengan nada nan lebih hati-hati. Bitcoin (BTC) bergerak mendatar pada 18 Januari, sementara volume transaksi turun dibandingkan pekan sebelumnya. Di balik, pergerakan nan tampak tenang itu, pelaku pasar bersiap menghadapi rangkain agenda makro nan berpotensi memicu lonjakan volatilitas dalam waktu berdekatan.

Fokus pertama jatuh pada operasi likuiditas The Fed pada Senin, berupa injeksi sekitar US$ 15 miliar melalui operasi T-bill. Langkah semacam ini biasanya menambah kas jangka pendek di pasar pendanaan dan dapat mengendurkan kondisi likuiditas. Dalam situasi tertentu, likuiditas nan lebih lenggang sering membikin trader lebih berani mempertahankan, alias menambah, termasuk di aset mata uang digital nan populer.

Sehari setelahnya, perhatian beranjak ke laporan ekonomi FOMC pada Selasa. Dokumen ini menjadi rujukan utama pasar untuk membaca arah kebijakan: gimana bank sentral memandang pertumbuhan, inflasi, serta jalur suku bunga.

Untuk biaya makro nan mengaitkan eksposur mata uang digital dengan real yield dan ekspektasi kebijakan, perubahan nada sekecil apa pun dapat memicu reposisi cepat, terutama ketika pasar sedang sensitif terhadap rumor suku bunga.

Di hari nan sama, pelaku pasar juga menanti putusan Mahkamah Agung Amerika mengenai tarif era Trump, nan dinilai dapat mengubah ekspektasi perdagangan, arah arus mata uang, dan pada akhirnya selera resiko. Jika keputusan mengarah pada perubahan tarif, dampaknya bisa merembet ke dolar, imbal hasil, hingga penilaian ulang terhadap aset beresiko, termasuk Bitcoin.

Baca Juga: Bitcoin Catat Arus Keluar Bursa Terbesar Sejak 2024

Ketegangan headline bersambung pada Rabu, ketika Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pembaruan di World Economic Forum, Davos. Meski dibingkai sebagai pesan kebijakan dan ekonomi nan lebih luas, pasar mata uang digital condong memperlakukannya sebagai ‘headline-risk’ murni.

Para trader dan penanammodal bakal banyak mencari petunjuk soal regulasi, perdagangan, dan arus modal. Dalam kondisi likuiditas nan menipis, satu kalimat nan dianggap krusial bisa menjadi pemicu volatilitas nan tidak proporsional.

Pada hari Kamis, sorotan kembali ke info nan sering luput dari perhatian ritel, ialah pembaruan neraca The Fed. Pelaku pasar bakal membaca apakah ada tanda-tanda pengetatan bersambung alias perlambatan runoff nan dapat dianggap sebagai ‘pelonggaran diam-diam’.

Bagi kripto, perubahan tren neraca sering diperlakukan sebagai parameter latar, ialah likuiditas nan membaik memberi ruang bagi reli, sedangkan pengetatan nan konsisten membikin kenaikan lebih susah bertahan.

Rangkaian agenda ditutup pada Jumat lewat keputusan suku kembang Bank of Japan (BoJ). Setelah kenaikan sebelumnya, penanammodal menimbang apakah BoJ bakal kembali mengetatkan alias memilih menahan.

Kenaikan suku kembang berpotensi mendorong imbal hasil naik dan memperkuat yen, nan sering menekan strategi carry trade global. Jika biaya nan meminjam murah untuk membeli aset volatil mulai mengurangi resiko, tekanan dapat terasa pada Bitcoin dan token besar lainnya.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya
Sumber Crypto Harian
Crypto Harian