– Bitcoin (BTC) condong ‘menghargai’ penanammodal nan sabar, setidaknya menurut info historis nan dibagikan André Dragosch, Head of Research Bitwise Europe.
Dalam kajian Bitwise atas pergerakan nilai Bitcoin sejak 17 Juli 2010 hingga 11 Februari 2026, kesempatan penanammodal berada dalam posisi rugi turun drastis seiring bertambahnya lama kepemilikan.

Bitwise mencatat bahwa jika Bitcoin dipegang minimal tiga tahun, probabilitas hasil investasi berhujung ‘merah’ menyusut menjadi hanya 0,7 persen. Artinya, nyaris semua titik masuk nan diuji pada rentang kepemilikan tiga tahun dalam sejarah Bitcoin akhirnya menghasilkan keuntungan.
Lebih jauh lagi, kesempatan rugi turun menjadi 0,2 persen untuk horizon lima tahun, dan 0 persen untuk horizon sepuluh tahun dalam sampel nan mereka gunakan.
Gambaran itu berbanding terbalik dengan perilaku jangka pendek, nan justru lebih rentan ‘salah waktu’. Bitwise menyebut pembeli intraday mempunyai kesempatan rugi sekitar 47,1 persen. Resiko itu tetap tinggi pada horizon satu pekan (44,7 persen), satu bulan (43,2 persen), hingga satu tahun (24,3 persen). Dengan kata lain, volatilitas jangka pendek membikin hasil lebih ditentukan oleh timing dibanding tren jangka panjang.
Metrik realized price ikut mempertegas pola tersebut. Pada saat info itu dibahas, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$ 65.000, turun kira-kira 50 persen dari puncaknya pada Oktober 2025.
Meski koreksi itu terasa berat bagi pembeli baru, nilai tersebut tetap jauh di atas realized price golongan pemegang 3-5 tahun di sekitar US$ 34.780. Itu berfaedah penanammodal nan memperkuat dalam rentang tersebut secara rata-rata tetap menyimpan sekitar 90 persen keuntungan.
Namun, alas itu tidak kebal. Sebagian trader menilai koreksi tetap bisa memanjang hingga US$ 30.000, dan jika skenario tersebut terjadi, ruang kondusif golongan 3-5 tahun bakal jauh menipis dan mendekati titik impas.
Baca Juga: JPMorgan Bidik Reli Kripto di Paruh Kedua Tahun Ini, Ini Kuncinya
Di titik itu, pasar biasanya diuji: apakah holder lama tetap tenang dan justru menambah posisi, alias mulai menambah tekanan jual lantaran untung lama menguap.
Sementara itu, tekanan besar saat koreksi umumnya dirasakan oleh pembeli nan lebih baru. Bitwise mencatat cost pedoman golongan 6-12 bulan berada di sekitar US$ 101.250, sehingga mereka menanggung kira-kira 35 persen kerugian belum terealisasi pada level nilai US$ 65.000.
Kelompok 1-2 tahun mempunyai cost pedoman lebih rendah, sekitar US$ 78.150, sehingga kerugiannya lebih kecil, sekitar 15 persen. Perbedaan ini memperkuat konklusi utama riset tersebut, ialah semakin panjang horizon, biasanya semakin mini drawdown nan dirasakan saat pasar mengalami koreksi.
Meski pasar tetap berdebat soal dasar harga, sejumlah proyeksi jangka menengah tetap bermunculan untuk 2026–2027. Bernstein, misalnya, tetap mempertahankan sasaran US$ 150.000 pada 2026 dan menyebut pergerakan nilai saat ini lebih mirip “krisis kepercayaan” daripada kerusakan fundamental, terutama lantaran arus keluar dari ETF spot disebut relatif moderat meski nilai sempat turun tajam.
Di sisi lain, Standard Chartered mengingatkan potensi fase ‘kapitulasi terakhir’ nan bisa menyeret Bitcoin ke sekitar US$ 50.000 sebelum pulih menuju US$ 100.000 pada akhir 2026. Untuk 2027, kerangka ‘average return’ historis Timothy Peterson mengarah ke sekitar US$ 122.000 pada awal 2027.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
17 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·