– Koreksi terbaru Bitcoin (BTC) kembali memicu kekhawatiran bahwa reli panjang aset ini mulai memasuki fase nan lebih rapuh. Mike Mcglone, nan merupakan senior commodity strategist Bloomberg Inteliigence, menilai pergerakan BTC nan sempat jatuh di bawah US$ 70.000 mencerminkan proses mean-reversion, kembalinya nilai ke kisaran rata-rata setelah periode spekulasi berlebih.
Dalam unggahan di media sosial X pada 7 Februari, McGlone menyebut Bitcoin sebagai produk era pasca-krisis finansial global, saat likuiditas berlimpah mendorong inflasi nilai aset beresiko.

“Ketika siklus itu menua, BTC condong kembali ke level nan paling sering diperdagangkan secara historis, nan menurut saya berkumpul di area US$ 64.000,” ungkap McGlone.
Dalam perihal ini, dia merajuk pada diagram mingguan nan menunjukkan area pertengahan US$ 60.000 berulang kali diuji, sementara info volume mengindikasikan aktivitas transaksi nan padat di kisaran US$ 64.000. Pola itu dinilai menguatkan argumen bahwa level tersebut berkedudukan sebagai support struktural nan menyerap tekanan jual saat pasar terguncang.
Berdasarkan riset nan dia lakukan, strategist tersebut juga menyoroti komparasi dengan SnP 500 untuk menekankan peran Bitcoin sebagai parameter awal sentimen resiko. Dalam beberapa periode sebelumnya, pelemahan BTC nan memperkuat lama kerap beriringan alias mendahului tekanan di pasar saham.
“Karena indeks saham tetap berada di level tinggi, minta diperhatikan bahwa kegagalan Bitcoin mempertahankan US$ 64.000 bisa menjadi sinyal meningkatnya stres di aset-aset beresiko,” ujarnya.
Baca Juga: Tokoh Penting BitMEX Tuding BlackRock Jadi Penyebab Turunnya Bitcoin
Menurutnya, US$ 64.000 adalah garis pertahanan krusial, nan jika level ini tertembus, maka penurunan dapat berakselerasi dan mendorong penanammodal memangkas eksposur resiko nan lebih luas, termasuk ekuitas.
Peringatan itu muncul setelah pekan nan sangat volatil. Bitcoin sempat turun hingga di bawah US$ 61.000 dan telah terkoreksi nyaris 45 persen dari puncak sekitar US$ 126.000 pada Oktober 2025. Pada 5-6 Februari, BTC mengalami penurunan harian terdalam sejak akhir 2022, jatuh 15 persen, lampau memantul 11 persen hingga sempat kembali menembus US$ 70.000.
“Ada sejumlah aspek nan memperparah guncangan. Mulai dari ketidakpastian tarif, keraguan arah kebijakan The Fed, hingga volatilitas lintas aset, ditambah perubahan sentimen institusional lantaran ETF Bitcoin Spot Amerika mulai mencatat arus keluar pada awal 2026 setelah sebelumnya dibantu inflow besar,” kata McGlone.
Di sisi on-chain, sinyalnya terbelah. Dompet ritel disebut garang mengakumulasi saat penurunan dan condong mempertahankan area US$ 60.000 hingga US$63.000, sementara pemegang besar lebih condong distribusi, sehingga reli tertahan.
Pada saat buletin dibuat, Bitcoin berada di kisaran US$ 69.464. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 2 persen dalam jangka waktu 24 jam, namun tetap turun kurang lebih 11 persen dalam sepekan.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
18 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·