Astrofisikawan Harvard Percaya Reli Besar Bitcoin Bisa Datang 2027, Apa Dasarnya?

Sedang Trending 18 jam yang lalu

– Seorang astrofisikawan terlatih Harvard berjulukan Stephen menilai reli besar berikutnya pada nilai Bitcoin kemungkinan tidak terjadi dalam waktu dekat. Namun, ketika reli itu datang, dia percaya pergerakannya condong mengikuti pola matematis nan cukup jelas, berbasis tren jangka panjang nan disebut power law.

Dalam sebuah obrolan terbaru, Stephen bercerita bahwa dia menghabiskan sebagian besar 2025 untuk menguji satu pertanyaan utama, ialah apakah Bitcoin bakal membentuk gelembung besar berikutnya, dan seberapa besar ukurannya.

“Namun, setelah puncak nilai Bitcoin terjadi, perilaku pasar 2025 tidak menyerupai siklus-siklus sebelumnya,” ungkap Stephen.

Stephen menjelaskan, lintasan pertumbuhan Bitcoin dalam jangka panjang bergerak mengikuti pola logaritmik nan relatif dapat dipetakan. Ketika nilai bergerak terlalu jauh di atas tren itu, barulah kondisi ‘bubble’ alias gelembung nan sesungguhnya muncul.

Dari kacamata tersebut, dia menilai 2025 bukan tahun bubble nan nyata, meski Bitcoin sempat mencetak rekor.

“Bitcoin sempat menembus level tertinggi baru pada Oktober 2025. Namun, jarak kenaikannya dari ‘harga tren’ tidak cukup esktrem untuk disebut bubble klasik seperti 2013, 2017 alias 2021,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa nilai tren pada Oktober berada disekitar US$ 110.000, sementara puncaknya hanya melampaui tren itu sekitar US$ 13.000 – US$ 14.000. Berdasarkan kerangka statistik nan dia gunakan, pasar baru masuk wilayah ‘bubble‘ nan betul-betul signifikan, ketika deviasinya jauh lebih besar.

Dari pengamatannya, untuk menyentuh ukuran ‘satu sigma’ saja, nilai semestinya sudah berada di kisaran US$ 160.000 alias lebih. Artinya, meskipun publik memandang US$ 120.000 sebagai sesuatu nan heboh, Stephen menilai secara struktur itu tetap berada dalam rentang nan relatif wajar dibandingkan gelembung historis nan betul-betul vertikal.

Baca Juga: Influencer Sebut Bitcoin Kemungkinan Bisa ATH Lagi Tahun 2028

Astrofisikawan tersebut juga membandingkan dua pendekatan prediksi nan sering dia gunakan, ialah model siklus empat tahunan nan terkenal di organisasi kripto, dan model log-periodic power law nan dia gunakan.

“Model empat tahunan menurut saya hasilnya tidak konsisten untuk memprediksi 2025. Berbeda dengan model log-periodic nan punya rekam jejak lebih rapi dalam mengantisipasi puncak-puncak besar, dengan deviasi waktu rata-rata sekitar separuh tahun,” kata Stephen.

Dari pembacaan Stephen, puncak gelembung besar berikutnya lebih masuk logika terjadi pada 2027, dan bisa memanjang hingga 2028. Ia menyiratkan pergerakan naik dapat mulai terbentuk sebelumnya, tetapi fase “naik nan cantik” baru terlihat jelas menjelang 2027.

Dia juga menyinggung komparasi Bitcoin dan emas. Ia menyebut sejak 2011, Bitcoin naik lebih dari 100.000 kali lipat, sementara emas kurang lebih hanya tiga kali. Namun, dia mengakui bahwa pada 2025 Bitcoin melemah relatif terhadap emas.

Berdasarkan model regresinya, dia memperkirakan ‘nilai wajar’ Bitcoin terhadap emas berada di sekitar 48 ons emas per 1 BTC. Sementara saat ini, posisinya disebut hanya sekitar 16 ons, kira-kira satu standar deviasi di bawah tren menurut kerangkanya.

“Dengan kata lain, jika model saya akurat, Bitcoin saat ini terlihat murah relatif terhadap emas,” pungkas Stephen.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya
Sumber Crypto Harian
Crypto Harian