– Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir dan sempat menyentuh area US$ 60.000 di tengah tekanan jual nan semakin cepat. Ritmenya mengingatkan sebagian pelaku pasar pada fase-fase krisis besar sebelumnya. Meski kemudian memantul dan pulih ke sekitar US$ 69.800 pada saat penulisan, struktur kerusakannya sudah terlanjur memaksa pasar bertanya apakah sebenarnya nan jadi pemicu.
Di media sosial, jawaban datang lebih sigap daripada data. Platform X dipenuhi teori, mulai dari rumor fund Hong Kong nan meledak, stres pendanaan yen, hingga kekhawatiran soal keamanan kriptografi.

Masalahnya, narasi-narasi seperti itu susah diverifikasi saat kejadian tetap berlangsung, dan sejauh ini tidak ada bukti publik nan cukup kuat untuk menjelaskan besarnya pergerakan hanya dengan satu ‘smoking gun’. Pola seperti ini sebenarnya plural di kripto, ketika nilai jatuh cepat, terjadi kekosongan penjelasan, lampau internet berkompetisi mengisinya.
Jika ditarik ke parameter nan lebih terstruktur, gambaran nan muncul terlihat jauh lebih ‘teknis’ dan kurang dramatis, namun justru lebih masuk akal. Tekanan paling jelas datang dari kombinasi arus keluar ETF spot Bitcoin di Amerika, likuidasi leverage nan memicu pengaruh domino, serta pergerakan koin dari pemegang besar menuju bursa pada saat likuiditas menipis. Begitu satu level kunci patah, pasar tidak bergerak lantaran keyakinan, tetapi lantaran sistem menutup resiko secara otomatis.
Salah satu titik beratnya ada pada ETF. Setelah pasar terbiasa dengan kehadiran pembeli besar nan relatif ‘tidak sensitif harga’, periode arus keluar berkepanjangan mengubah wajah permintaan.
Ketika outflow terjadi terus-menerus, pantulan jadi lebih mudah patah dan kedalaman order book sigap menipis di momen genting. Di kondisi seperti itu, penurunan nan awalnya terasa ‘wajar’ bisa berubah menjadi jatuh bebas saat stop dan margin call mulai beruntun.
Dari sisi derivatif, ketika nilai menembus area-area support, mesin likuidasi mengambil alih. Likuidasi leverage membikin tindakan jual menjadi mekanis, ialah posisi paksa ditutup, bukan diputuskan. Di pasar nan likuiditasnya menipis, arus paksa seperti ini bisa mendominasi price discovery, membikin pergerakan terlihat seolah ada ‘informasi rahasia’, padahal sering kali hanya pengaruh dari resiko nan ditutup serentak.
Baca Juga: Aksi Beli Tren Bullish, Harga Uang Kripto Ethereum Melonjak 11%
Data on-chain memperkuat kesan kapitulasi. Metrik kerugian terealisasi melonjak, menandakan banyak koin betul-betul dijual dalam kondisi rugi. Pada saat nan sama, parameter nan memantau aktivitas pemegang besar menunjukkan porsi deposit besar ke bursa meningkat.
Ini bukan bukti otomatis bahwa semua koin langsung dijual, deposit bisa berfaedah banyak hal, termasuk kebutuhan kolateral alias lindung nilai, tetapi terjadi di tengah kepanikan dan likuidasi, sinyal ‘potensi suplai’ saja sudah cukup menekan ilmu jiwa pasar.
Ketika nilai spot terjun, jarak Bitcoin terhadap ‘patokan’ on-chain juga melebar. Sejumlah model biaya rata-rata dan nilai wajar on-chain berada jauh di atas nilai pasar pada puncak penurunan, menggambarkan seberapa dalam nilai jatuh dibanding pedoman biaya golongan penanammodal tertentu.
Dalam bahasa sederhana, banyak golongan pembeli, termasuk nan masuk lewat jalur institusional, kembali berada dalam posisi tidak nyaman sehingga dorongan untuk ‘menambah’ tidak otomatis muncul.
Di atas semua itu, aspek makro ikut memperketat ruang gerak. Bitcoin semakin sering diperlakukan sebagai aset risk-on nan sensitif likuiditas, sehingga saat pasar dunia masuk mode defensif, mata uang digital ikut terseret. Bahkan ketika aset lain seperti komoditas juga bergejolak, itu memberi sinyal bahwa nan terjadi bukan drama unik mata uang digital semata, melainkan deleveraging lintas aset nan membikin duit tunai dan likuiditas menjadi raja.
Hasil akhirnya adalah pergerakan nan tampak seperti “black swan” di grafik, tetapi perilakunya lebih mirip kecelakaan di sistem perpipaan pasar, dimana arus keluar melemahkan bid, level patah memicu likuidasi, lampau info on-chain menunjukkan tekanan realisasi rugi dan aktivitas pemegang besar saat volatilitas memuncak.
Rebound bisa terjadi, dan sering terjadi, tetapi pasar biasanya baru betul-betul tenang ketika mesin leverage selesai dibersihkan dan permintaan kembali konsisten, bukan sekadar pantulan dari kondisi oversold.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·