– Bitcoin kembali memunculkan sinyal teknikal nan membikin pelaku pasar waspada. Aset mata uang digital terbesar itu disebut membentuk death cross pada diagram satu jam alias 1H, pola nan dalam dua bulan terakhir beberapa kali diikuti koreksi harga.
Berdasarkan kajian TradingShot melalui TradingView pada 14 Juli, sinyal tersebut membuka akibat penurunan Bitcoin menuju US$60.200. Jika tekanan jual meningkat, nilai BTC diperkirakan berkesempatan melemah lebih dalam ke area US$57.250.

Saat kajian itu diterbitkan, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$62.600. Sinyal terbaru tersebut menjadi death cross keempat dalam dua bulan terakhir dan nan pertama sejak 19 Juni.
Death Cross Muncul di Grafik 1 Jam
Death cross adalah pola teknikal nan muncul ketika rata-rata pergerakan jangka pendek memotong ke bawah rata-rata pergerakan jangka panjang. Dalam kajian pasar, pola ini kerap dibaca sebagai tanda pelemahan momentum.
Menurut TradingShot, setiap death cross pada diagram satu jam sejak Mei selalu diikuti koreksi nilai Bitcoin. Namun, pola penurunannya tidak selalu langsung terjadi pada saat sinyal terbentuk.
Pada 27 Mei, BTC disebut langsung melemah setelah sinyal muncul. Sementara itu, death cross pada 13 Mei dan 19 Juni sempat diikuti reli singkat sebelum Bitcoin kembali melanjutkan penurunan.
TradingShot juga menyoroti pola lower highs alias puncak nilai nan makin rendah sebelum sinyal terbentuk. Pola tersebut menunjukkan dorongan beli melemah, sementara penjual mulai mengambil kendali pergerakan jangka pendek.
Target Koreksi ke US$60.200
Berdasarkan pergerakan historis dalam dua bulan terakhir, koreksi Bitcoin setelah sinyal tersebut berada di kisaran 6,79 persen hingga 11,40 persen. Jika pola serupa terulang, BTC berpotensi turun ke sekitar US$60.200 dalam skenario moderat.
Dalam skenario tekanan jual nan lebih besar, TradingShot memperkirakan nilai dapat mendekati US$57.250. Area ini menjadi sasaran koreksi nan lebih dalam andaikan penurunan mengikuti pola sebelumnya.
Meski begitu, kajian tersebut juga membuka kemungkinan adanya pantulan singkat sebelum pelemahan berlanjut. Pola seperti ini sempat terlihat setelah sinyal pada Mei dan Juni.
Dengan kata lain, sinyal death cross tidak selalu berfaedah nilai langsung jatuh dalam satu arah. Namun, pola itu tetap menjadi peringatan bahwa tren pendek Bitcoin belum sepenuhnya pulih.
Bitcoin Gagal Tembus US$64.400
Prospek bearish juga diperkuat oleh kegagalan Bitcoin menembus area resistensi penting. Sejak awal Juli, BTC terus membentuk puncak nilai nan lebih rendah.
Penolakan terbaru terjadi di sekitar US$64.400 sebelum sinyal teknikal bearish muncul. Kegagalan menembus area tersebut menunjukkan pembeli belum cukup kuat membawa Bitcoin keluar dari tekanan jangka pendek.
Hingga bahan ini disusun, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.854. Harga itu naik sekitar 2,6 persen dalam 24 jam terakhir dan menguat 1,3 persen selama sepekan.
Namun, pemulihan tersebut belum cukup untuk mengubah gambaran teknikal nan lebih luas. Bitcoin tetap berada di bawah Simple Moving Average alias SMA 50 hari di US$64.641 dan SMA 200 hari di US$73.785.
Selama BTC bergerak di bawah dua level tersebut, tren jangka menengah hingga panjang tetap dinilai condong bearish.
Baca Juga: Bitcoin Turun Parah, Death Cross Picu Kekhawatiran Penurunan Lanjutan
Sentimen Makro Masih Membayangi
Di luar teknikal, pasar mata uang digital juga dipengaruhi sentimen makro. Data inflasi Amerika Serikat nan lebih rendah dari perkiraan sempat memberi angan tekanan terhadap kebijakan suku kembang Federal Reserve dapat berkurang.
Dalam bahan nan dikutip, Indeks Harga Konsumen alias CPI Juni turun 0,4 persen. Inflasi tahunan melambat menjadi 3,5 persen, sementara inflasi inti turun menjadi 2,6 persen.
Data seperti itu biasanya menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Namun, optimisme pasar tertahan oleh perpindahan aset mata uang digital milik pemerintah Amerika Serikat ke Coinbase Prime.
Pemerintah AS disebut memindahkan sekitar 3.940 BTC senilai kurang lebih US$244 juta dan lebih dari 30.000 ETH. Perpindahan tersebut belum tentu berfaedah aset bakal langsung dijual.
Meski demikian, pasar tetap mencermati akibat bertambahnya pasokan andaikan aset tersebut dilepas ke pasar. Kekhawatiran ini dapat menambah tekanan terhadap nilai Bitcoin dalam jangka pendek.
RSI Masih di Bawah Level 50
Indikator Relative Strength Index alias RSI 14 hari berada di level 45,69. Posisi ini menunjukkan momentum pasar tetap netral, tetapi belum cukup kuat untuk menandakan kekuasaan pembeli.
RSI nan tetap berada di bawah level psikologis 50 menunjukkan Bitcoin belum memperoleh dorongan beli nan meyakinkan. Kondisi tersebut sejalan dengan kegagalan BTC menembus resistensi US$64.400.
Dengan kombinasi death cross, pola lower highs, nilai nan tetap berada di bawah SMA 50 hari dan SMA 200 hari, serta tekanan makro, pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan tetap berpotensi volatil.
Pada info nan dikutip, BTC berada di kisaran US$63.854, sedangkan level nan dipantau pasar berada di US$60.200 untuk skenario koreksi moderat dan US$57.250 jika tekanan jual membesar.
bitcoin:native just formed a 1H Death Cross, its first since June 19 and 4th overall in the last 2 months!
This has been a strong Sell Signal for #Bitcoin , with the market dropping either instantly (May 27) or after a short dead-cat-bounce (June 19, May 13) after flashing.… pic.twitter.com/F4oyCQxhAX
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.Selalu Melakukan Perdagangan di Exchange nan Legal di Indonesia (Di bawah Pengawasan OJK)
20 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·