Binance vs Strategy, Mana yang Lebih Rugi Saat Bitcoin Down?

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Binance vs Strategy, Mana nan Lebih Rugi Saat Bitcoin Down?

– Perbandingan Binance vs Strategy kembali menjadi sorotan setelah analis on-chain CryptoQuant, Darkfost, menilai Strategy tetap menanggung kerugian belum terealisasi nan lebih besar dibandingkan Binance.

Analisis itu muncul setelah Strategy, perusahaan nan sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, kembali menjual sebagian kepemilikan Bitcoin. Penjualan tersebut menjadi salah satu transaksi terbesar perusahaan dalam beberapa waktu terakhir.

Langkah itu memicu obrolan baru mengenai posisi finansial Binance vs Strategy, terutama lantaran nilai Bitcoin tetap berada di bawah nilai rata-rata pembelian perusahaan.

Binance vs Strategy dalam Cadangan Bitcoin

Menurut Darkfost, bursa mata uang digital dunia saat ini menyimpan sekitar 8 juta BTC. Dari jumlah itu, sekitar 30 persen berada di Binance.

Binance disebut mempunyai sekitar 656.561 BTC. Jumlah tersebut membuatnya menjadi bursa dengan persediaan Bitcoin terbesar di dunia.

Namun, kepemilikan itu tetap lebih mini dibandingkan Strategy. Darkfost mencatat Strategy memegang 843.775 BTC, sehingga tetap berada di atas Binance dari sisi jumlah Bitcoin nan dikaitkan dengan entitas tersebut.

Perbandingan Binance vs Strategy ini tidak bisa dibaca secara sederhana. Darkfost menegaskan sebagian besar Bitcoin nan berada di Binance merupakan aset milik pengguna, bukan aset perusahaan.

Kondisi itu berbeda dengan Strategy, nan memang dikenal sebagai perusahaan pemegang Bitcoin dalam strategi treasury korporasinya.

Binance Melepas Cadangan Perusahaan

Dalam kajian tersebut, Binance disebut telah melepas sekitar 94 persen persediaan Bitcoin miliknya pada awal 2025. Langkah itu disebut sebagai bagian dari restrukturisasi upaya dan pengalihan ke stablecoin.

Sejak saat itu, Bitcoin nan tersimpan di Binance kebanyakan merupakan biaya milik investor. Karena itu, posisi Binance tidak sama dengan perusahaan nan menyimpan Bitcoin sebagai aset neraca sendiri.

Perbedaan struktur kepemilikan ini menjadi krusial dalam membaca Binance vs Strategy. Binance menyimpan BTC dalam skala besar, tetapi banyak di antaranya merupakan aset pelanggan.

Sebaliknya, Strategy mempunyai eksposur langsung terhadap pergerakan nilai Bitcoin. Jika nilai turun di bawah nilai rata-rata pembelian, tekanan pada posisi finansial Strategy menjadi lebih terlihat.

Strategy Jual BTC untuk Likuiditas

Dalam kurang dari dua bulan, Strategy disebut telah dua kali menjual Bitcoin. Penjualan pertama dilakukan pada akhir Mei dengan melepas 32 BTC senilai sekitar US$2,5 juta.

Penjualan kedua terjadi pekan ini. Strategy menjual 3.588 BTC dengan nilai sekitar US$216 juta.

Menurut Darkfost, penjualan tersebut lebih mencerminkan kebutuhan likuiditas perusahaan dibandingkan perubahan pandangan terhadap Bitcoin. Dana hasil penjualan digunakan untuk pembayaran dividen sekuritas dan kebutuhan operasional.

Dengan kata lain, laporan itu tidak menyimpulkan Strategy kehilangan kepercayaan terhadap Bitcoin. Penjualan dinilai lebih berangkaian dengan kebutuhan pendanaan jangka pendek.

Baca Juga: Strategy Jual Bitcoin, Dividen STRC Jadi Alasan

Harga Beli Strategy Lebih Tinggi

Dalam konteks Binance vs Strategy, salah satu aspek nan membikin posisi Strategy dinilai lebih tertekan adalah nilai rata-rata akumulasi Bitcoin. Darkfost mencatat Strategy membeli Bitcoin dengan nilai rata-rata sekitar US$75.476 per BTC.

Sementara itu, penjualan terbaru dilakukan ketika Bitcoin berada di kisaran US$60.000. Dengan selisih tersebut, perusahaan diperkirakan merealisasikan kerugian sekitar 20 persen dari Bitcoin nan dijual.

Sebagai pembanding, seluruh persediaan Bitcoin di Binance diperkirakan mempunyai realized price sekitar US$60.900. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan nilai rata-rata akumulasi Strategy.

Perbedaan nilai dasar tersebut membikin posisi Strategy lebih sensitif terhadap pelemahan Bitcoin. Selama nilai BTC belum kembali ke atas nilai rata-rata pembelian perusahaan, potensi tekanan pada neraca Strategy tetap menjadi perhatian pasar.

Unrealized Loss Bisa Bertambah

Jika dilihat dari komparasi Binance vs Strategy, ukuran kepemilikan juga menjadi aspek penting. Strategy mempunyai jumlah Bitcoin lebih besar dibandingkan Binance, sehingga eksposur terhadap kerugian belum terealisasi juga lebih besar.

Darkfost menilai andaikan Strategy kembali menjual Bitcoin saat nilai tetap berada di sekitar US$60.000, perusahaan berpotensi membukukan kerugian nan lebih besar.

Risiko itu muncul lantaran nilai jual berada jauh di bawah nilai rata-rata pembelian. Semakin besar jumlah BTC nan dilepas pada level nilai tersebut, semakin besar pula potensi kerugian nan direalisasikan.

Namun, laporan tersebut tetap menempatkan penjualan Strategy dalam konteks likuiditas. Strategy disebut tetap menggunakan penjualan Bitcoin untuk memenuhi tanggungjawab dividen dan kebutuhan operasional.

Pada laporan terbaru nan dibahas Darkfost, Strategy tetap memegang 843.775 BTC, sementara Binance tercatat mempunyai sekitar 656.561 BTC dengan kebanyakan aset di bursa disebut sebagai milik pengguna.

🗞️ Strategy's Cost Basis vs. Binance's : Who's really underwater on Bitcoin ?

This week was marked by the largest BTC sale in Strategy's history.

🔴 The company offloaded 3 588 BTC for approximately $216 million, an operation aimed at funding dividends on their Digital Credit… pic.twitter.com/MsUKz3wLx4

— Darkfost (@Darkfost_Coc) July 9, 2026

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.Selalu Melakukan Perdagangan di Exchange nan Legal di Indonesia (Di bawah Pengawasan OJK)

Selengkapnya
Sumber Crypto Harian
Crypto Harian