– Harga Bitcoin (BTC) kembali memperkuat di atas level US$ 70.000, meskipun pasar dunia sempat dilanda ketegangan geopolitik akibat bentrok antara Amerika Serikat, Israel dan Iran. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 4 persen.
Menurut analis Markus Thielen dari Matrixport, keahlian Bitcoin untuk tetap stabil dalam kondisi tersebut justru menjadi sinyal bullish bagi pasar.

Ia menilai bahwa jika kondisi ini berlanjut, Bitcoin berpotensi kembali bergerak di kisaran US$ 70.000 hingga US$ 80.000 dalam waktu dekat.
Dalam laporan harian Matrixport tertanggal 10 Maret, Thielen menjelaskan bahwa sejak awal Februari Bitcoin condong bergerak sideways meskipun menghadapi beragam tekanan makro.
Beberapa aspek nan sempat membebani pasar antara lain:
- Data ketenagakerjaan Amerika nan lemah.
- Penurunan pasar saham Korea Selatan.
- Lonjakan nilai minyak global.
Bahkan ketika nilai minyak setempat melonjak hingga US$ 120 per barel akibat kekhawatiran Iran menutup Selat Hormuz, Bitcoin turun hingga sekitar US$ 66.000 sebelum akhirnya menemukan support.
Menurut Thielen, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar mata uang digital bisa menyerap tekanan eksternal dengan relatif baik.
Ketegangan Geopolitik Mulai Mereda
Sentimen pasar juga mendapat dorongan setelah muncul laporan pada 9 Maret bahwa Presiden Amerika Donald Trump menyatakan bentrok tersebut ‘hampir sepenuhnya selesai’.
Setelah pernyataan tersebut, harga minyak turun kembali di bawah US$ 90 per barel.
Pada saat nan sama, emas telah mencapai sekitar US$ 5.140 per ounce, dan Indeks SnP 500 naik di atas 6.800.
Bitcoin juga ikut bergerak naik hingga sekitar US$ 69.600 sebelum stabil di kisaran US$ 69.000 pada hari nan sama.
Baca Juga: Jika Harga Minyak Naik, Akankah Bitcoin Ikut Naik?
Data terbaru menunjukkan Bitcoin sempat bergerak dalam kisaran US$ 67.000 hingga US$ 71.200, dan saat ini berada sedikit di atas US$ 70.500.
Secara keseluruhan, Bitcoin menunjukkan pemulihan moderat dalam beberapa minggu terakhir.
- Naik sekitar 3 persen dalam tujuh hari terakhir.
- Naik lebih dari 10 persen dalam dua minggu terakhir.
Namun secara tahunan, Bitcoin tetap turun sekitar 15 persen dan berada lebih dari 44 persen di bawah all-time high Oktober 2025 ketika sempat mencapai US$ 126.000.
Deleveraging Bisa Dorong Reli Baru
Faktor lain nan diperhatikan analis adalah penurunan leverage di pasar kripto.
Menurut analis CryptoQuant Darkfost, rasio leverage Bitcoin di Binance turun dari 0,198 menjadi 0,152 sejak Februari, ketika nilai Bitcoin turun dari sekitar US$ 96.000 ke US$ 69.000.
Penurunan leverage ini biasanya menunjukkan bahwa tekanan spekulatif di pasar mulai berkurang, sehingga struktur pasar menjadi lebih sehat.
Menariknya, info dari Binance Research menunjukkan bahwa pasar futures Bitcoin saat ini didominasi oleh posisi short. Open interest meningkat sekitar 18 persen sejak akhir Februari, naik dari nilai di bawah US$ 30 miliar.
Namun pada saat nan sama, funding rate tetap rendah hingga negatif, nan menandakan banyak trader bertaruh pada penurunan harga.
Jika Bitcoin justru bergerak naik, kondisi ini berpotensi memicu short squeeze, ialah situasi ketika trader short terpaksa menutup posisi mereka dan secara tidak langsung mempercepat kenaikan harga.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·