– Data on-chain XRP menunjukkan tanda-tanda stres nan makin nyata, seiring profitabilitas holder melemah dan tekanan jual meningkat. Dalam kajian nan dibagikan Glassnode di platform X pada 9 Februari, firma riset mata uang digital itu menilai XRP sedang memasuki fase perilaku pasar nan mirip dengan periode penurunan sebelumnya, ialah ketika penanammodal mulai merealisasikan kerugian secara luas setelah nilai menembus level biaya rata-rata kepemilikan (cost basis).
Glassnode menyebut XRP telah kehilangan “aggregate holder cost basis”, sebuah titik psikologis dan struktural nan sering menjadi pemicu perubahan perilaku. Ketika nilai jatuh di bawah rata-rata biaya beli kolektif, banyak holder condong beranjak dari menahan posisi menjadi menjual untuk membatasi kerugian, nan pada gilirannya mempercepat tekanan jual.

Dalam ringkasannya, Glassnode mengatakan kondisi ini memicu pola panic selling, diikuti realisasi kerugian nan membesar, hingga akhirnya profitabilitas on-chain berbalik negatif.
Salah satu metrik utama nan disorot adalah Spent Output Profit Ratio (SOPR), parameter nan membandingkan nilai saat token dibelanjakan/ditransfer on-chain dengan nilai saat token tersebut diperoleh. Secara umum, SOPR di atas 1 menandakan koin nan bergerak di jaringan dijual dalam kondisi untung, sedangkan SOPR di bawah 1 berfaedah koin tersebut beranjak tangan dalam kondisi rugi.
Baca Juga: Bitcoin Sempat Jebol US$ 70.000, Analis Bloomberg Peringatkan Risiko Domino ke Saham
Menurut Glassnode, SOPR XRP dengan perataan EMA 7 hari turun tajam dari sekitar 1,16 pada Juli 2025 menjadi 0,96 saat ini. Pembacaan di bawah 1 ini menunjukkan bahwa rata-rata XRP nan bergerak di jaringan sekarang dilepas pada nilai nan lebih rendah dibanding nilai perolehannya.
Glassnode menempatkan pelemahan SOPR ini dalam konteks historis nan lebih luas. Firma tersebut menilai setup saat ini mirip dengan fase September 2021 hingga Mei 2022, ketika SOPR terperosok ke area di bawah 1 dan memperkuat di sana dalam periode konsolidasi nan panjang sebelum kondisi mulai stabil.
Pada fase seperti itu, pasar biasanya menyerap suplai dari holder nan lemah, aktivitas spekulatif menurun, dan nilai bergerak condong datar lantaran tekanan jual berangsur dicerna oleh pembeli.
Dalam perihal ini, Glassnode menekankan bahwa SOPR lebih merupakan parameter perilaku daripada perangkat ramalan harga. Artinya, metrik ini terutama menjelaskan gimana holder bereaksi terhadap kondisi saat ini, apakah mereka menjual dalam untung alias rugi, bukan memastikan ke mana nilai bakal bergerak berikutnya.
Secara historis, SOPR nan memperkuat di bawah 1 memang menandakan stres, tetapi juga dapat muncul pada fase pasar nan menyeimbang diri setelah kelebihan suplai.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
22 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·