Kekhawatiran Bubble Menguat, Tiga Ekonom Top Bilang Begini

Sedang Trending 18 jam yang lalu

– Lonjakan nilai saham dan derasnya shopping kepintaran buatan (AI) kembali memunculkan pertanyaan lama, ialah apakah pasar sedang membangun gelembung baru?

Sejumlah ahli ekonomi menilai memang ada bagian nan terlihat ‘terlalu panas’, namun gambaran besarnya belum menunjukkan kerusakan mendasar. Nada nan sama muncul dari tiga tokoh dengan perspektif pandang berbeda, dari manajer portofolio, mantan pejabat ekonomi Gedung Putih, hingga ketua IMF, mengatakan bahwa kondisi tampak menegang, namun belum pecah.

Owen Lamont dari Acadian Asset Management memandang valuasi saham Amerika memang tinggi dan sentimen penanammodal terasa optimis. Namun baginya, label bubble tidak cukup hanya bermodal nilai nan mahal alias euforia ritel.

“Salah satu karakter klasik nan biasanya datang di puncak gelembung, ialah orang dalam perusahaan dan pemilik awal berkompetisi ‘membuang’ saham ke publik lewat IPO dan secondary offering besar-besaran,” ungkap Lamont.

Itu nan menurutnya belum terlihat pada skala nan meyakinkan di siklus ini. Alih-alih banjir publikasi saham baru, perusahaan-perusahaan AS justru tetap aktif melakukan buyback, dan mengurangi jumlah saham beredar. Bagi Lamont, pola ini tidak sejalan dengan perilaku “jual ke publik saat puncak” nan sering menjadi penanda bubble matang.

“Saya tidak menyangkal pasar terlihat mahal, tetapi menurut pandangan saya, syarat untuk menyebutnya bubble penuh tetap belum lengkap.” ujarnya.

Baca Juga: Novogratz: Ancaman Terbesar Bitcoin Bukan Quantum, tapi Konflik Internal Pengembang

Di luar perdebatan valuasi pasar, Jared Bernstein menyoroti bahwa mesin ekonomi riil tetap berjalan. Dalam tulisannya untuk Stanford, dia menilai ekonomi Amerika bisa memperkuat di tengah suku kembang bunga tinggi, ketidakpastian kebijakan dan perubahan struktural, tanpa tergelincir ke resesi.

“Konsumsi rumah tangga, kenaikan bayaran riil, serta perbaikan produktivitas membantu menahan pengaruh perlambatan pasar tenaga kerja,” kata Bernstein.

Ia menggambarkan situasi ketenagakerjaan saat ini sebagai ‘low-hire’, ‘low fire’, di mana perekrutan melambat, namun PHK juga tidak meledak, sehingga ekonomi tetap tumbuh pada jalur nan relatif sehat.

“Bahkan kekhawatiran bubble saham nan dipicu AI, belum menjelma menjadi kerusakan ekonomi luas, ialah investasi dan produktivitas tetap memberi bantalan,” tulisnya.

Sementara itu, dari panggung dunia Kristalina Georgieva di World Economic Forum 2026 di Davos membawa pesan nan senada. Ia mengatakan bahwa ekonomi bumi sudah berulang kali diterpa guncangan, dengan geopolitik, bentrok dagang, hingga pengetatan keuangan. Namun daya tahannya lebih kuat dari perkiraan banyak pihak.

Ketahanan itu, menurutnya, dengan keahlian sektor swasta beradaptasi, respon kebijakan bank sentral nan relatif dan penyebaran teknologi nan bertahap.

“Masalah besar seperti utang publik nan meningkat dan pertumbuhan nan tidak merata antarwilayah. Namun ini merupakan tantangan nan bisa dikelola, bukan pemicu instabilitas sistemik,” pungkas Georgieva.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya
Sumber Crypto Harian
Crypto Harian