– Jika Presiden Amerika Donald Trump tiba-tiba tidak lagi menjabat, baik lantaran kondisi kesehatan nan mendadak maupun lantaran proses politik, pasar mata uang digital beresiko masuk ke fase volatilitas ekstrem. Skenario pergantian kekuasaan di Washington nyaris selalu memicu respon sigap di aset beresiko, dan mata uang digital biasanya bereaksi lebih keras lantaran likuiditasnya bisa menipis dalam hitungan menit.
Secara konstitusional, mekanismenya sebenarnya cukup jelas. Jik Presiden meninggal dunia, wakil presiden bakal langsung mengambil alih jabatan. Jika pemakzulan terjadi, prosesnya lebih panjang, ialah DPR dapat meloloskan pemakzulan, namun presiden baru betul-betul dicopot jika Senat memvonis dan mencapai periode support nan tinggi.

Dalam kedua skenario tersebut, pasar biasanya tidak menunggu ‘kepastian resmi’ terlalu lama. Begitu rumor menguat, trader condong berebut untuk mengurangi resiko, dan efeknya bisa menjalar ke seluruh kompleks kripto, mulai dari altcoin, derivatif, hingga stablecoin.
Kekhawatiran itu sempat kembali mengemuka lantaran perhatian publik terhadap kondisi kesehatan Trump sempat meningkat pada 2025. Pada Juli 2025, Gedung Putih menyatakan Trump didiagnosis chronic venous insuffiency setelah pemeriksaan mengenai pembengkakan ringan di kaki, dengan hasil nan disebut ‘dalam pemisah normal’ dan tanpa temuan masalah nan lebih serius.
Meski begitu, pasar sering kali bereaksi pada persepsi resiko, bukan pada bahasa resmi nan menenangkan.
Di sisi lain, pelaku pasar mata uang digital juga menimbang aspek ‘kelanjutan kebijakan’. Sejak masa awal jabatan, Trump memang mengambil langkah nan dipandang ramah pada industri. Pada 23 Januari 2025, dia menandatangani perintah pelaksana nan membentuk golongan kerja mata uang digital untuk menyusun arah izin dan mengeksplorasi pembentukan cadangan/stockpile aset digital nasional.
Baca Juga: Apa Saja nan Terjadi Pada Kripto Setelah Satu Tahun ‘Kepergian’ Gary Gensler?
Beberapa minggu kemudian, Gedung Putih juga merilis perintah mengenai Strategic Bitcoin Reserve dan ‘United States Digital Asset Stockpile’ nan berasal dari aset pemerintah, termasuk hasil penyitaan.
Perubahan suasana kebijakan juga terasa di pihak regulator. Pada Mei 2025, SEC bergerak untuk mengakhiri perseteruan hukumnya dengan Binance. Di mata pasar, konsistensi sinyal semacam ini sering diterjemahkan sebagai ruang napas bagi aset kripto, meski implementasinya tidak selalu terasa di harga.
Karena itu, jika pergantian Presiden terjadi secara mendadak, konsentrasi pasar bakal sigap bergeser pada satu pertanyaan, ialah apakah pemerintah baru mempertahankan arah nan sama, alias justru membalikkan haluan.
Dalam skenario suksesi, sorotan bakal tertuju pada JD Vance, bukan hanya lantaran posisinya sebagai wakil presiden, namun lantaran dia juga tercatat mempunyai eksposur Bitcoin dalam laporan kekayaan publiknya. Pernyataan awal pemerintahan baru mengenai regulasi, stablecoin dan sikap regulator berpotensi menjadi ‘pemadam’ alias bensin bagi volatilitas.
Sementar itu, kesempatan pemakzulan juga menjadi salah satu bahan spekulasi di kalangan trader, meski probabilitasnya tidak tinggi. Di Polymarket misalnya, kesempatan Trump untuk dimakzulkan sebelum akhir 2026 tercatat sekitar 16 persen pada 20 Januari 2026.
Bahkan jika pemakzulan tidak berujung pencopotan, proses politik nan berkepanjangan bisa menciptakan ketidakpastian berkepanjangan dan pasar biasanya paling tidak menyukai ketidakpastian.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·