– Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat bentrok Iran, pergerakan pasar justru menunjukkan sesuatu nan menarik. Bitcoin (BTC) terlihat lebih tahan banting dibanding aset safe haven tradisional seperti emas dan perak.
Laporan dari JP Morgan mencatat bahwa saat logam mulia mengalami tekanan, Bitcoin justru mencatat arus masuk dana. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa preferensi penanammodal mulai berubah, setidaknya dalam jangka pendek.

Emas, nan sebelumnya sempat mencetak rekor nilai di awal tahun, sekarang terkoreksi cukup dalam. Dalam satu bulan terakhir,harganya turun sekitar 15 persen. Penurunan ini terjadi di tengah penguatan dolar Amerika dan kenaikan suku bunga, nan membikin posisi emas menjadi kurang menarik. Ditambah lagi, banyak penanammodal mulai melakukan tindakan ambil untung setelah reli panjang sebelumnya.
Tekanan tersebut juga terlihat dari arus biaya keluar. ETF emas mencatat penarikan besar dalam waktu singkat, sementara perak apalagi kehilangan seluruh aliran biaya nan sempat masuk sejak tahun lalu. Ini menunjukkan penanammodal mulai melepas posisi mereka di aset tersebut.
Sebaliknya, Bitcoin justru bergerak ke arah nan berbeda. Selama periode nan sama, BTC mencatat arus masuk biaya bersih. Ini bukan hanya soal harga, namun juga soal peran. Dalam kondisi tertentu, Bitcoin mulai dipandang sebagai alternatif lindung nilai.
Fenomena ini terlihat jelas di Iran. Aktivitas mata uang digital di negara tersebut meningkat tajam sejak bentrok memanas. Masyarakat dilaporkan memindahkan aset mereka dari platform lokal ke dompet pribadi dan platform internasional.
Baca Juga: Ada Trader Kripto Boncos Gede Gegara Leverage Tinggi, Siapa Dia?
Dalam situasi di mana akses ke sistem finansial bisa terganggu, Bitcoin menawarkan elastisitas nan tidak dimiliki aset lain, ialah bisa diakses kapan saja, tidak berjuntai pada bank, dan tidak mudah dibatasi.
Dari sisi institusi, arah pergerakan juga mulai berubah. Posisi di emas dan perak nan sebelumnya menumpuk sekarang mulai berkurang, menandakan tindakan keuntungan taking. Sementara itu, posisi di Bitcoin relatif stabil, menunjukkan bahwa penanammodal belum meninggalkan aset ini meski kondisi pasar tidak pasti.
Perubahan juga terlihat dari sisi momentum. Emas dan perak nan sebelumnya berada di area jenuh beli sekarang bergerak turun, sementara Bitcoin perlahan pulih dari kondisi jenuh jual. Ini biasanya menjadi tanda awal perubahan sentimen.
Menariknya, likuiditas pasar juga ikut berubah. Selama ini emas dikenal sebagai aset dengan likuiditas kuat. Namun dalam kondisi terbaru, likuiditasnya justru menurun, sementara Bitcoin menunjukkan peningkatan aktivitas pasar. Hal ini membikin pergerakan BTC terlihat lebih stabil dibandingkan sebelumnya.
Semua ini mengarah pada satu pertanyaan besar, apakah peran safe haven mulai bergeser?
Jawabannya belum pasti. Emas tetap mempunyai posisi kuat secara global. Namun, dalam kondisi tertentu, terutama saat terjadi gangguan sistem finansial alias tekanan geopolitik, Bitcoin mulai menunjukkan fungsinya sebagai alternatif.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·