Bitcoin Turun Parah, Death Cross Picu Kekhawatiran Penurunan Lanjutan

Sedang Trending 4 hari yang lalu

– Pasar mata uang digital kembali diuji di saat penanammodal dunia mencari tempat berlindung. Ketika emas melesat melewati US$ 5.600 per ons dan perak menembus US$ 121 pekan ini, Bitcoin justru tertekan tajam.

Kontras ini mempertegas satu realitas nan tetap susah diterima sebagian pelaku kripto, saat ketidakpastian makro memuncak, penanammodal condong memilih safe haven tradisional terlebih dulu, dan mata uang digital menjadi pilihan kedua, jika pun dipilih.

Selama bertahun-tahun, emas, perak dan Bitcoin sama-sama dipromosikan sebagai penyimpanan nilai serta pelindung terhadap pelemahan mata duit dan ‘campur tangan’ pemerintah. Namun dalam bagian risk-off terbaru, pasar memberi penilaian nan tegas.

Logam mulia bisa menambah ratusan miliar nilai pasar dalam hitungan hari, sementara Bitcoin melemah, dan altcoin lebih parah lagi dengan aset seperti Dogecoin dan XRP mencatat penurunan tajam.

Pemicu tekanan kali ini berlapis, ialah meningkatnya kesempatan shutdown pemerintah Amerika, ketidakpastian kebijakan The Fed, hingga ancaman intervensi yen Jepang nan membikin penanammodal berebut aset dengan rekam jejak puluhan tahun menghadapi krisis.

Dalam lanskap seperti itu, usia Bitcoin nan baru sekitar 15 tahun dinilai belum cukup ‘teruji’ bagi banyak penanammodal konservatif ketika rasa takut mengambil alih.

Death Cross Tambah Sinyal Bearish

Dari sisi teknikal, tekanan tidak hanya datang dari narasi makro. Bitcoin disebut baru-baru ini diperdagangkan di sekitar US$ 83.405, turun 6,46 persen alias sekitar US$ 5.763 dari hari sebelumnya. Harga juga telah menembus beberapa area support sejak melemah dari puncak Januari di sekitar US$ 97.000, membikin sebagian analis menilai penurunan belum tentu selesai.

Salah satu sinyal nan paling disorot adalah death cross, ketika EMA 50 hari turun menembus EMA 200 hari, nan kerap dipandang sebagai peringatan tren bearish jangka panjang. Secara sederhana, rata-rata jangka pendek mencerminkan di mana pembeli baru masuk belakangan ini, sementara rata-rata jangka panjang menunjukkan area posisi penanammodal dalam beberapa bulan.

Baca Juga: Rusia Peringatkan Dampak Crash Kripto Bisa Menular ke Pasar Lain

Ketika rata-rata jangka pendek jatuh di bawah rata-rata jangka panjang, perihal tersebut mengindikasikan pembeli terbaru mulai terjebak dan struktur pasar condong memburuk. Pola serupa pernah muncul sebelum penurunan besar Bitcoin, termasuk fase bear market 2018 dan kejatuhan 2022.

Saat ini, EMA 50 hari disebut berada di sekitar US$ 88.000, menjadi resistensi terdekat nan belum sukses direbut kembali oleh pembeli. Posisi nilai nan berada di bawah kedua rata-rata ini menciptakan “atap” nan tebal, sehingga pemulihan berfaedah biasanya memerlukan penembusan nan jelas dan memperkuat di atas level tersebut.

Level Berikutnya

Jika support di US$ 80.600 kandas bertahan, perhatian pasar dapat bergeser ke area US$ 74.000, nan disebut sebagai area terendah April 2025, wilayah nan sebelumnya menjadi titik pantul. Penembusan di bawahnya bakal membuka ruang skenario lebih dalam, meski dinilai mini kemungkinannya, menuju sekitar US$ 65.000.

Untuk saat ini, bias jangka pendek tetap condong ke bawah. Pembeli memerlukan sinyal pembalikan nan lebih jelas, seperti penutupan harian kembali di atas US$ 88.000 disertai penguatan ADX, untuk menunjukkan bahwa arus mulai berubah.

Tanpa itu, pasar berpotensi tetap menghadapi pergerakan tersendat, volatilitas tinggi dan narasi berulang bahwa logam mulia kembali mengungguli kripto.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya
Sumber Crypto Harian
Crypto Harian