Bitcoin Kembali Disebut Mati, Sejarah Justru Berkata Sebaliknya

Sedang Trending 12 jam yang lalu

– Perjalanan nilai Bitcoin (BTC) selama lebih dari satu dasawarsa penuh dengan volatilitas ekstrem. Setiap kali terjadi penurunan tajam, banyak pihak kembali menyatakan bahwa Bitcoin telah ‘mati’. Namun sejarah berulang kali menunjukkan perihal nan berbeda.

Salah satu contoh paling mencolok terjadi enam tahun lampau saat crash pasar akibat pandemi COVID-19.

Pada saat itu, kepanikan dunia akibat pandemi nan menghentikan aktivitas ekonomi bumi memicu tindakan jual besar-besaran di beragam pasar, termasuk kripto. Dalam satu hari, nilai Bitcoin jatuh nyaris 50 persen, dari sekitar US$ 8.200 menjadi di bawah US$ 4.700.

Penurunan tersebut apalagi lebih dramatis jika dilihat dalam rentang waktu satu minggu. Bitcoin ambruk dari sekitar US$ 9.000 hingga menyentuh US$ 3.720, alias turun sekitar 60 persen dari nilianya.

Kejatuhan tersebut langsung memicu beragam komentar pesimistis. Banyak pengamat pasar kembali menyatakan bahwa Bitcoin telah kehilangan statusnya sebagai aset lindung nilai lantaran volatilitasnya nan sangat tinggi.

Kebangkitan Pasca Crash

Namun, perkembangan selanjutnya justru menunjukkan cerita nan berbeda.

Dalam beberapa bulan setelah kejatuhan tersebut, Bitcoin mulai pulih. Pada Januari 2021, nilai BTC sudah meningkat nyaris 10 kali lipat dibandingkan titik terendah saat crash pandemi.

Reli tersebut bersambung hingga Bitcoin mencapai sekitar US$ 69.000 pada pertengahan 2021. Momentum kenaikan apalagi terus bersambung dalam siklus berikutnya.

Pada akhir 2025, nilai Bitcoin sempat mencapai lebih dari US$ 126.000, alias sekitar 3.300 persen lebih tinggi dibandingkan titik terendah saat pandemi.

Meskipun saat ini nilai Bitcoin telah terkoreksi ke kisaran US$ 70.000, kenaikan sejak masa krisis tersebut tetap tergolong sangat besar.

Baca Juga: Hati-Hati, Ada Serangan Baru di Ekosistem Solana

Kritik Lama Kembali Muncul

Saat ini Bitcoin diperdagangkan sekitar 50 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) nan tercapai pada Oktober 2025. Kondisi tersebut kembali memicu beragam komentar skeptis.

Beberapa pihak kembali menyatakan bahwa Bitcoin bakal segera “mati”, sebuah narasi nan sebenarnya sudah acapkali muncul sepanjang sejarah aset digital tersebut.

Memang, ada sejumlah aspek nan membikin sentimen pasar mata uang digital terlihat melemah. Misalnya, Bitcoin menutup tahun 2025 di area merah, sesuatu nan jarang terjadi pada tahun setelah halving.

Selain itu, Bitcoin juga mencatat lima bulan berturut-turut dengan candle bulanan merah. Pada saat nan sama, aset lain seperti emas dan perak justru mencatat keahlian nan lebih kuat, sementara pasar saham juga menunjukkan kenaikan meski bumi menghadapi beragam ketidakpastian.

Volatilitas Adalah Bagian dari Bitcoin

Namun bagi banyak penanammodal jangka panjang, volatilitas seperti ini bukanlah perihal baru. Sejak awal kemunculannya, Bitcoin telah acapkali mengalami koreksi besar, hanya untuk kembali mencetak rekor baru beberapa tahun kemudian.

Hal ini membikin sebagian pendukung Bitcoin beranggapan bahwa koreksi tajam merupakan bagian alami dari siklus pasar kripto.

Jika pola sejarah terus berulang, maka fase penurunan seperti nan terjadi saat ini mungkin hanya menjadi bagian dari perjalanan panjang Bitcoin.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya
Sumber Crypto Harian
Crypto Harian