– Pemerintah dari negara Bhutan kembali mengurangi kepemilikan Bitcoin (BTC) di tengah melemahnya nilai dan memburuknya sentimen pasar. Data terbaru menunjukkan Royal Government of Bhutan sekarang memegang sekitar 5.600 BTC, senilai kurang lebih US$ 385 juta, setelah serangkaian pergerakan on-chain nan mengisyaratkan adanya pelepasan koin.
Langkah ini terjadi saat parameter sentimen mata uang digital merosot tajam, dengan Fear and Greed jenis CoinMarketCap turun hingga 8, meski Bitcoin semapt mencatat pemulihan tipis.

Arkham Intelligence mencatat Bhutan mentransfer 100 BTC (sekitar US$ 6,77 juta) ke QCP. Transfer tersebut mengikuti peningkatan akivitas dompet-dompet nan dikaitkan dengan Bhutan. Hal ini memicu dugaan bahwa sebagian koin memang telah dilepas ke pasar.
Jika dilihat secara keseluruhan, kepemilikan Bhutan turun signifikan dari puncaknya sekitar 13.295 BTC pada Oktober 2025, artinya, dalam waktu sekitar empat bulan Bhutan telah memangkas persediaan Bitcoin nyaris 60 persen.
Namun, tidak semua pergerakan dompet pemerintah langsung mengonfirmasi penjualan. Beberapa transfer sebelumnya tercatat menuju alamat nan tidak jelas tujuan akhirnya, bukan langsung ke alamat bursa nan bisa diverifikasi.
Meski demikian, tren pengurangan nan konsisten membikin aktivitas Bhutan kembali menjadi sorotan, terutama ketika Bitcoin tetap kesulitan keluar dari tekanan dan sentimen pasar terus melemah.
Di saat nan sama, kekhawatiran pasar diperkuat oleh revisi proyeksi dari Standard Chartered. Bank tersebut memangkas perkiraan nilai Bitcoi untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari tiga bulan, dan memperingatkan BTC tetap bisa turun menuju US$ 50.000 sebelum pulih.
Baca Juga: Kinerja Menurun 5 Persen, Saham Coinbase dalam Bahaya?
Kepala riset aset digital Standard Chartered, ialah Geoffrey Kendrick menyebut bank memperkirakan fase kapitulasi lanjutan dalam beberapa bulan ke depan.
Sejumlah analis menambahkan tekanan narasi bearish. Glassnode menyoroti potensi kelemahan struktural nan dapat menarik Bitcoin menuju realized price di sekitar US$ 55.000. Sementara itu, analis Benjamin Cowen memperingatkan skenario nan lebih dalam, di mana Bitcoin bisa menembus realized price dan tergelincir hingga sekitar US$ 40.000, jika tekanan berlanjut.
Standard Chartered sendiri juga menurunkan sasaran akhir 2026 untuk Bitcoin menjadi 100.000, dari perkiraan sebelumnya di US$ 150.000. Bahkan pada Desember lalu, bank ini sudah memangkas sasaran 2026 dari US$ 300.000.
Kendrick mengaitkan penurunan proyeksi terbaru dengan arus keluar ETF dan kondisi makro nan lebih menantang.
Ia menjelaskan, kepemilikan Bitcoin ETF telah berkurang nyaris 100.000 BTC sejak puncak 10 Oktober 2025, dan rata-rata pembeli ETF sekarang berada dalam posisi rugi dengan nilai masuk mendekati US$ 90.000. Data Bloomberg juga menunjukkan penanammodal telah menarik nyaris US$ 8 miliar dari ETF spot Bitcoin nan terdaftar di Amerika sejak tindakan jual 10 Oktober.
Revisi proyeksi tidak berakhir di Bitcoin, Standard Chartered juga memangkas sasaran Ethereum akhir 2026 menjadi US$ 4.000 dari sebelumnya US$ 7.500, serta membuka kemungkinan ETH turun menuju sekitar US$ 1.400 sebelum terjadi pemulihan nan betul-betul berkelanjutan.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
16 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·